Jumat, 11 Juni 2010

Martir




Selasa, 1 Juni 2010, tampaknya menjadi ”Hari Berkabung Dunia”. Nyaris tanpa kesepakatan, hampir semua media massa – cetak, televisi, internet, radio – menempatkan berita penyerangan kapal Ravi Marmara oleh tentara Israel sebagai headline. Sebuah tragedi kemanusiaan yang memicu setumpuk simpati sekaligus kemarahan, melewati batas wilayah dan negara. Suatu kejadian yang sangat mengganggu hati nurani kita sebagai manusia.
Pertanyaannya, kenapa penyerangan terhadap misi kemanusiaan ini begitu mengganggu benak kita? Pasti persoalannya bukan melulu karena derita dan korban yang berjatuhan. Kalau hanya karena penderitaan, rasanya ada banyak derita lain yang tak kalah getir untuk diberi simpati. Lantas, karena apa lagi? Jawabannya mungkin ada pada hati kita masing-masing, dan mungkin juga berbeda satu sama lain. Namun jika ditarik benang merah, rasanya ada satu hal yang menyatukan semua alasan yang berbeda itu, semangat kemartiran. Semangat pengorbanan yang diyakini bakal bermanfaat bagi sesama.
Bila kita cermati, penyerangan Ravi Marmara oleh tentara Israel ini sebenarnya sangat tidak beralasan dan tak disangka-sangka. Kapal yang membawa 700 relawan dari berbagai negara dan 10.000 ton bantuan kemanusiaan ini murni sebagai pembawa misi kemanusiaan. Namun, bukannya para relawan tak tahu resiko yang mesti dihadapi dalam menembus blokade ini. Mereka pasti telah memikirkan segala konsekuensinya, sekalipun itu harus berhadapan dengan tentara zionis Israel. Dan inilah yang paling mengusik benak saya, darimanakah mereka mendapatkan semangat keberanian itu? Meski tahu resikonya luar biasa besar, tak sedikit pun nyali mereka ciut. Bahkan setelah misi pertama ini kandas, mereka –para relawan- tak jera untuk terus menebarkan misi kemanusiaannya.
Kapal Rachel Corrie, yang namanya ternyata diambil dari seorang martir Palestina asal Amerika Serikat, telah mereka siapkan untuk meneruskan misi selanjutnya ke Jalur Gaza. Namun kabar terakhir pun menyebutkan, kapal ini tak akan pernah sampai ke tujuannya karena (lagi-lagi) dihadang barisan tentara Israel. Sikap kemartiran yang –kalau berhasil- bakal sangat berguna bagi kelangsungan hidup penduduk Palestina di Jalur Gaza. Sayang, sebuah misi kemanusiaan pun ternyata tak sanggup menembus blokade militer negara Yahudi tersebut.
Kalau menengok ke tanah air, tentu masih segar di ingatan kita akan sosok Munir. Seorang aktivis Hak Asasi Manusia yang konon terbunuh karena sikap kritis dan perlawanannya terhadap ketidakadilan. Ia tak berhenti menyuarakan aspirasi kaum-kaum tertindas walau di kanan-kirinya muncul banyak tekanan dan ancaman. Namun, pejuang gigih seperti Munir pun harus takluk oleh konspirasi busuk segelintir oknum yang membuatnya mati muda. Hingga saat ini, sosoknya masih memberi inspirasi para aktivis untuk terus bergerak dan melawan. Sampai-sampai band Efek Rumah Kaca pun merasa perlu untuk menulis lagu berjudul ”Di Udara” sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasa Munir sewaktu hidup.
Namun bila berbicara tentang sosok yang paling kontroversial dewasa ini, mungkin perhatian kita akan langsung tertuju pada seorang Susno Duadji. Kegigihannya dalam membongkar borok dalam institusi Polri benar-benar membuat beberapa pihak kebakaran jenggot. Betapa tidak, Susno tak segan menyebut nama sekaligus kasus-kasus yang beredar di lingkungan Polri. Masyarakat pun dibuat terkejut sekaligus mengelus dada dengan pengakuan mantan Kabareskrim ini. Institusi yang dipercaya masyarakat dapat memberantas praktek-praktek kejahatan, malah menjadi sarang kejahatan itu sendiri. Kabar terakhir, Susno justru dipidanakan oleh Polri terkait masalah pelanggaran kode etik.
Sebelas - dua belas dengan Bibit-Chandra, yang dengan gigih memperjuangkan kebenaran malah kembali dijerumuskan dengan berbagai tuduhan. Bahkan sampai sekarang kasus mereka masih terus bergulir dan berpotensi menimbulkan kemandulan dalam pemberantasan korupsi. Padahal mereka inilah figur-figur vital yang ingin menegakkan kembali supremasi hukum di negeri ini.
Moral yang bisa diambil dari beberapa kasus di atas adalah, dunia –kita- tampaknya butuh martir. Orang yang berani mengambil resiko yang justru dihindari oleh orang lain. Tentu, konteksnya harus positif. Karena ada juga mereka yang melakukan pengorbanan diri tapi justru merugikan orang lain, seperti para teroris yang gemar “mati syahid” dengan dalih membela ajaran agama.
Menjadi martir itu sulit. Saking sulitnya, hanya segelintir manusia yang diberi kehormatan menjadi pelopor bagi peradabannya masing-masing. Tapi kalau hanya untuk menjadi martir bagi lingkungan kita sendiri, rasanya tak terlalu sulit. Pertanyaannya, maukah kita mengorbankan kepentingan pribadi untuk menjadi martir bagi orang lain?[]