Rabu, 12 Agustus 2009

City Menghapus Dominasi



Manuver yang dilakukan Manchester City pada musim ini cukup mencengangkan. Berkat sokongan dana dari Sheik Mansour klub yang selalu dalam bayang-bayang rival sekotanya, Manchester United ini mulai menunjukkan taringnya di bursa transfer. Sejumlah pemain bintang telah direkrut untuk memperkuat tim. Yang paling mencolok adalah di sektor penyerang. Pemain berpredikat bintang mulai dari Santa Cruz, Tevez hingga Adebayor sukses mendarat di City of Manchester dengan nilai transfer yang selangit. Padahal, sebelumnya klub ini telah memiliki beberapa penyerang handal macam Robinho dan Bellamy.
Hal ini berpotensi menimbulkan friksi di internal klub jika pelatih Mark Hughes tidak pandai mengatur para bintangnya. Di sektor lain, penambahan pemain dirasa lebih “masuk akal”. Masuknya Gareth Barry dan Kolo Toure dipercaya dapat menambah kesolidan tim, walaupun untuk mendatangkan mereka klub harus merogoh kocek cukup dalam.
Untuk merangsek ke papan atas EPL, tentu diperlukan usaha yang lebih dari sekedar mendatangkan pemain berkelas dengan harga tinggi. Namun, harapan untuk mengganggu dominasi The Big Four cukup terbuka jika Mark Hughes jeli dalam meramu timnya dan selalu menjaga agar kondisi tim tetap kondusif sepanjang musim.

Senin, 16 Maret 2009

K-A-O-S



Zaman globalisasi telah merubah berbagai hal yang ada di muka bumi ini, tak terkecuali apa yang dialami oleh sebuah pakaian bernama kaos. Di abad mutakhir ini, kaos telah menjadi sebuah kebutuhan dan trend bagi masyarakat luas, lebih-lebih anak muda. Padahal, jika ditilik dari awal kemunculannya, fungsi kaos terbatas hanya sebagai “pakaian dalam”. Fungsi kaos sebagai pakaian luar baru bisa tersebar ke seluruh dunia tatkala John Wayne, Marlon Brando, dan James Dean mengenakan kaos sebagai pakaian luar di dalam film-film yang mereka bintangi pada tahun 1950-an.

Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran makna kaos dalam kehidupan social. Maksudnya, kaos tidak lagi hanya dipandang sebagai kain penutup tubuh, namun lebih dari itu. Disini, kaos memainkan peran lebihnya yaitu sebagai wahana petanda. Singkatnya, kaos dapat mengkomunikasikan berbagai lokasi, identitas social, slogan-slogan, maupun kelompok/komunitas tertentu. Lebih lanjut, kaos seakan menjadi pelengkap gaya hidup modern. Bisa dikatakan, semangat kehidupan modern ialah semangat kaos oblong.

Bagi kalangan muda sendiri, kaos telah menjadi candu. Jika Marx pernah mengatakan bahwa agama itu candu, maka di zaman kapitalisme ini candu itu bernama kaos. Hal ini dapat diamati dari keseharian anak muda dalam beraktivitas. Semangat kaos “oblongisme” telah menjangkiti sebagian besar dari mereka, jika saya boleh menggeneralisir keadaan. Jika dirunut lebih lanjut, terdapat berbagai corak atau desain yang tersemat di dalam kaos-kaos mereka. Tren kaos anak muda dewasa ini cenderung mengarah ke desain kaos distro. Selain itu, kaos-kaos bernada resistensi juga cukup menggejala di kalangan anak muda. Ada pula kaos yang menggambarkan kesenangan seseorang pada hal-hal tertentu semisal musik, sastra, dan lain sebagainya. Mengutip Ariel Heryanto, salah satu pemikir kebudayaan pop di Indonesia, kaos oblong punya bobot komunikasi yang (sengaja atau tidak) telah menunjukkan identitas seseorang.

Permasalahannya, apakah anak muda disini telah memahami esensi dari apa yang mereka kenakan? Apakah mereka hanya terjebak pada budaya konsumerisme yang dihantarkan lewat media kaos ini? Sehingga pada akhirnya akan mematikan kreativitas anak muda karena mereka memakai kaos yang seragam, yang bermerk. Jikapun kaos mereka bernada resistensi, sudahkah mereka memahami makna dari petanda tersebut? Ataukah hanya ingin terlihat “wah”dan berbeda saja dengan yang lain? Semua kemungkinan itu dapat saja terjadi di tengah budaya konsumtif lagi pragmatis pemuda zaman sekarang.

Jumat, 13 Maret 2009

Media Komunitas: Angin Segar Pers Mahasiswa

Di era pasca reformasi sekarang ini, pers mahasiswa dirasakan kurang terdengar gaungnya. Ketika kebebasan informasi sudah menjadi milik kita semua dan media massa (baru) tumbuh subur, kondisi pers mahasiswa justru makin tenggelam. Eksistensi pers mahasiswa yang dahulu dibanggakan kini seakan memudar seiring bergulirnya zaman. Lebih ironisnya lagi, di lingkungan kampusnya sendiri-pun, keberadaan pers mahasiswa kurang populer di kalangan mahasiswa.

Jika menilik sejarah, pers mahasiswa mengalami periodesasi sejarah yang tidak dapat dilupakan dalam sejarah pergerakan. Setidaknya terdapat tiga fase dalam pergerakan pers mahasiswa. Pertama, fase sebelum kemerdekaan. Kedua, pada awal kemerdekaan yang ditandai munculnya rezim orde lama. Ketiga, fase pemerintahan Orde Baru hingga saat ini. Periodesasi ini mengingatkan kita betapa besarnya kontribusi atau peran yang diberikan oleh pers mahasiswa terhadap perubahan nasional. Disini pers mahasiswa memiliki role yang jelas, yaitu menjadi corong demokrasi bersama dengan kaum pergerakan dalam rangka mengkritisi rezim yang berkuasa. Dapat dibaca dari terbitannya yang kental dengan nuansa perlawanan dan cenderung mengarah ke jurnalisme propaganda.

Lalu setelah keran demokrasi dibuka dengan bebas seperti saat ini, dimanakah posisi pers mahasiswa sekarang? Sebagai gambaran, setelah reformasi bergulir pers-pers umum tidak segan lagi untuk mengungkap fakta dan analisis yang mengkritisi pemerintahan yang berkuasa. Bahkan mungkin jauh lebih berani dan nekad dibandingkan pers mahasiswa era pergerakan sekalipun. Dengan kenyataan tersebut, fungsi kontrol sosial dan peran pers mahasiswa telah mengalami dekadensi. Lantas, apa yang masih tersisa dari sebuah organisasi intra kampus bernama pers mahasiswa?

Terhadap problem klasik ini, salah satu solusinya ialah menjadikan pers mahasiswa sebagai pers yang berbasis komunitas. Di sini pers mahasiswa mendapati dirinya sebagai artikulator dari komunitasnya, dalam hal ini kampus. Pers mahasiswa sebagai media komunitas dituntut untuk peka dan peduli terhadap masalah-masalah yang muncul di dalam komunitasnya. Idealnya, pers mahasiswa bisa menjadi oposisi atau sebagai fungsi kontrol terhadap kebijakan kampus yang merugikan kepentingan mahasiswa.

Selanjutnya dengan menjadi community paper , bukan berarti pers mahasiswa menafikan problem-problem berskala nasional. Hanya saja sudut pandang dan cara kerjanya yang perlu diubah. Dapat diartikan, para pegiat pers mahasiswa tidak perlu memaksakan diri untuk meliput berita yang bersifat nasional. Sebab, tetap saja akhirnya pers mahasiswa akan tenggelam oleh pers umum yang notabene didukung oleh modal dan tenaga profesional yang kuat. Pers mahasiswa cukup menyampaikan opini dengan sudut pandang komunitasnya (kampus) dalam menyikapi permasalahan nasional yang muncul. Dengan begitu, pers mahasiswa akan lebih “membumi” dan memiliki ciri khas karena mengambil perspektif lain dalam menganalisis problem nasional. Tentu hal ini dapat menjadi poin plus tersendiri bagi pers mahasiswa.

Dalam segi output penerbitan, kemasan (layout) dan rubrikasi majalah ataupun buletin yang konservatif sudah selayaknya ditinggalkan. Pers mahasiswa harus lebih kreatif dalam membuat konsep baru terbitan supaya dapat diterima dan diapresiasi dengan baik oleh mahasiswa yang notabene pasar utama persma.

Untuk mendukung pers mahasiswa sebagai media komunitas, para pegiat pers mahasiswa harus lebih jeli dalam memanfaatkan kesempatan untuk lebih berkembang. Dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat belakangan ini, pers mahasiswa dapat lebih memainkan peran dalam komunitasnya. Dengan media internet, pers mahasiswa dapat melebarkan sayapnya via website maupun blog. Media-media online ini dapat berfungsi sebagai wadah komunikasi antara pers mahasiswa dengan komunitasnya (civitas akademika dan masyarakat) sekaligus menjembatani komunikasi antar pers mahasiswa seluruh Indonesia. Website juga dapat berfungsi sebagai media publikasi majalah elektronik /e-magz, opini dan berita terbaru seputar kampus dan lain sebagainya.

Kini telah banyak pers mahasiswa yang memiliki media online. Internet sebagai sarana media informasi dan komunikasi memiliki dua kelebihan yaitu kecepatan dan daya jangkau. Faktanya, kebanyakan pers mahasiswa ini hanya memaksimalkan daya jangkaunya saja. Sisi kecepatan kurang terjamah karena penggunaan website-nya sendiri cenderung hanya untuk publikasi materi media cetaknya Ikhtiar ini tidak salah namun akan lebih baik lagi bila para aktivis mahasiswa dapat memanfaatkan faktor kecepatan ini sebagai nilai tambah website-nya. Dengan banyaknya manfaat yang ditawarkan oleh dunia maya, sudah selayaknya para pegiat pers mahasiswa memaksimalkan media yang satu ini untuk lebih merangkul komunitasnya, di lain sisi sebagai ladang pembelajaran menulis bagi para anggotanya.

Tidak bisa dinafikan bahwa segmen pers mahasiswa saat ini memang lebih lokal. Hal ini tidak perlu disesali. Hemat saya, jadikanlah itu sebagai sebuah kekuatan, bukannya keterbatasan. Akan lebih elegan bagi pers mahasiswa sekarang jika eksistensi dan manfaatnya dapat dirasakan oleh civitas akademikanya dahulu. Sejalan dengan hal itu pers mahasiswa kini dituntut untuk merekonstruksi jati dirinya kembali. Lupakanlah sejenak romantisme kejayaan di masa lalu dengan segala ideologi yang menyertainya. Lagu-lagu reorientasi dan reposisi jelas masih bernas untuk digemakan. Ide menjadi media komunitas dapat menjadi angin segar bagi perjalanan pers mahasiswa. Bermula dari kampus, eksistensi persma harus mulai dikembangkan. Bukan suatu hal yang mustahil, masa keemasan pers mahasiswa akan dapat diraih kembali.